Posted by: hidayatilquran | April 6, 2010

Perbedaan Syariah dan Fiqih adalah

è Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat manusia,Baik Muslim maupun bukan Muslim.Selain berisi hukum dan aturan,Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini.Maka oleh sebagian penganut Islam, Syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini. Read More…

Posted by: hidayatilquran | April 6, 2010

Hakikat Manusia

Hakikat manusia dalam islam Hakikat manusia menurut Allah adalah makhluk yang dimuliakan, dibebani tugas, bebas memilih dan bertanggung jawab.Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan.  Read More…

Posted by: hidayatilquran | March 19, 2010

الأشراط العبادة

الأشراط العبادة

وقول الله تعالى: (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ)(1) وقوله: الآية. وقوله: (وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا) (3) الآية. وقوله: (وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا) (4) الآية. وقوله: (قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا) (5) الآيات.

Tujuan Allah SWT menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah. Untuk menjalankan ibadah, manusia diberi berbagai fasilitas hidup, bentuk yang terbaik, kedudukan yang mulia, diberi akal, hati, nafsu. dan hidayah iman dan ilmu pengetahuan.

Bila manusia tidak menjalankan ibadah artinya menyimpang dari kehendak Nya. Manusia menyimpang dari kehendakNya itu ada berbagai bentuk seperti bentuk kuffaar (pengingkaran), nifaq (tidak meyakini dalam hati), menyekutukan (syirik), dan lain lainnya.

Penyimpangan manusia disebabkan beberapa kemungkinan, mungkin karena belum tahu, atau sudah tahu tetapi menutup diri dari seruan Allah dan RasulNya, atau karena mengikuti tipu daya syetan, sehingga menjadi pengikut thaghut, atau karena mencari kepuasan hawa nafsunya.

Dalam kehidupan dunia, manusia tidak akan mengenal Allah dan alam akhirat bila Allah tidak mengutus para nabi dan rasul Nya, untuk menyampaikan petunjuk/hidayah,  mengajarkan keimanan dan mencapai keselamatan dunia akhirat. Karena itu Allah berfirman :

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ) (2)

Dan sungguh telah Kami utus pada setiap umat seorang Rasul, agar mereka menyembah Allah dan menjauhi Thaghut.

Diantara utusanNya itu ada yang diutus sebagai nabi dan rasul, tetapi ada yang diutus sebagai nabi saja. Abdul Rahmad bin Muhammad dalam maqalahnya mengatakan:

أن الرسول من أوحي إليه بشرع جديد والنبي من بعث مجددا لشرع من قبله من الرسل .

Bahwa Rasul itu orang yang diberi wahyu kepadanya dengan hukum/ syari’ah yang baru, dan nabi itu orang yang diutus untuk memperbaharui syari’ah rasul sebelumnya. ( makalah At Tafriiqu bainan nabiyyi war rasuuli hal 5)

Saya berpendapat bahwa selain keterangan di atas, rasul itu orang yang diberi tugas mengajarkan dan menegakkan syariat/hukum atas manusia, nabi adalah orang yang diberi tugas mengajarkan ‘aqidah/keimanan dan membimbing umat untuk pencerahan rohani, dan menerangkan hal hal ghaib yang wajib diimani.

Nabi Muhammad saw disamping diutus sebagi nabi, juga diutus sebagai rasul, tugas kenabian ini lebih dominan pada periode Mekah sebelum beliau hijrah ke Madinah, dan tugas kerasulan lebih dominan pada periode sesudah hijrah, karena itu wahyu yang beliau terima sebelum hijrah kebanyakan berisi keimanan dan khabar khabar akhirat, dan wahyu sesudah hijrah berisi ajaran syariat dan mu’ammalah.

Aqidah adalah asas/dasar bagi tegaknya ibadah dan syari’ah, karena ibadah dan syari’ah itu tidak dapat ditegakkan pada manusia yang tidak memiliki aqidah/iman yang kuat. Semakin lemah iman seseorang semakin mudah untuk mengabaikan hukum hukumNya. Memeluk Islam berarti yakin terhadap kebenaran Islam dan hilangnya segala keraguan. Seraya mentaati dan mengamalkan ajarannya, serta meninggalkan semua larangannya.

Barang siapa ingin mengetahui wasiat Muhammad saw dengan sempurna, maka bacalah firmanNya yang Maha Tinggi : 151.  Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]“. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

[518]  maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

Hingga firmanNya “dan sungguh inilah jalan hidup yang lurus”.

Islam itu memberi kemudahan, tetapi ketentuan syari’ahNya jangan mudah di abaikan.  Asal manusia itu bertauhid dengan benar dan beribadah sesuai tuntunan Islam dijamin tidak akan disiksa, sebagaimana keterangan Mu’adz bin Jabal ra, ia berkata:

كنت رديف النبي صلى الله عليه وسلم على حمار فقال لي: “يا معاذ أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله؟” فقلت: الله ورسوله أعلم. قال: “حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئاً، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً” فقلت: يا رسول الله أفلا أبشر الناس؟ قال: “لا تبشرهم فيتكلوا” أخرجاه في الصحيحين.

Suatu saat aku membonceng Nabi saw di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku, “ Hai Mu’adz tahukah kamu, apa hak Allah atas seorang hamba, dan apa hak seorang hamba atas Allah?” aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “ Hak Allah atas seorang hamba adalah agar menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, dan hak seorang hamba atas Allah adalah bahwa tidak akan menyiksanya, bagi orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.”  Aku bertanya: “wahai Rasulallah bolehkah hal ini saya kabarkan kepada manusia?” Beliau berkata: “ jangan kamu kabari, nanti mereka hanya akan bertawakal ( tidak terdorong beramal). Hadits dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.

عن أنس بن مالك قال : كنا جلوسا عند النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال :  يطلع الآن عليكم رجل من أهل الجنة ، فطلع رجل من الأنصار ، تنظف لحيته من وضوئه ، قد علق نعليه بيده الشمال ، فلما كان الغد قال النبي مثل ذلك ، فطلع ذلك الرجل مثل المرة الأولى ، فلما كان اليوم الثالث قال النبي مثل مقالته أيضا ، فطلع ذلك الرجل مثل حالته الأولى .

Anas bin Malik berkata, ketika kami duduk duduk dihadapan Nabi saw, beliau berkata:” akan muncul sekarang seorang laki-laki dari ahli surga.”  Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki dari suku Anshar, bersih janggutnya karena wudhunya, kedua sandalnya dibawa dengan tangan kiri. Maka pada hari hari berikutnya, Nabi saw berkata seperti itu (lagi), maka tidak lama muncullah seperti munculnya yang pertama. Pada hari ke tiga Nabi saw berkata seperti itu lagi, kemudian muncullah laki-laki itu keadaannya seperti yang pertama.

فلما قام النبي ، تبعه عبد الله بن عمرو فقال : إني لاحيت أبي فأقسمت ألا أدخل عليه ثلاثا فإن رأيت أن تؤويني إليك حتى تمضي فعلت ! قال : نعم

Sesudah itu Nabi saw berdiri dan diikuti oleh ‘Abdullah bin ‘Umar sambil berkata kepada laki-laki itu: “ sungguh aku telah memaki bapakku maka aku bersumpah untuk masuk kerumahnya 3 hari, maka bagaimana bila aku tinggal dirumahmu hingga selesai yang aku lakukan ?” ia berkata,” ya.”

قال أنس : فكان عبد الله يحدث أنه بات معه تلك  الثلاث الليالي فلم يره يقوم من الليل شيئا ، غير أنه إذا تعار – تقلب في فراشه – ذكر الله عز وجل حتى ينهض لصلاة الفجر قال عبد الله : غير أني لم أسمعه يقول إلا خيرا .

Anas berkata: maka ‘Abdullah menceritakan bahwa ia tidur di rumah laki-laki itu hingga 3 hari 3 malam, maka ia tidak melihatnya shalat malam sekalipun selain bila ia tidur membolak balikkan badan di tempat tidurnya sambil berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, hingga bangun waktu subuh untuk shalat subuh. ‘Abdullah berkata : “aku tidak mendengar ia berbicara selain kebaikan.”

فلما مضت الليالي الثلاث وكدت أحتقر عمله . قلت : يا عبد الله لم يكن بيني وبين أبي غضب ولا هجرة . ولكني سمعت رسول الله يقول لك ثلاث مرات : يطلع الآن عليكم رجل من أهل الجنة ، فطلعت أنت الثلاث المرات فأردت أن آوي إليك ، فأنظر ما عملك فأقتدي بك ، فلم أرك عملت كبير عمل !! فما الذي بلغ بك ما قال رسول الله ؟ قال : ما هو إلا ما رأيت . قال عبد الله : فلما وليت دعاني فقال : ما هو إلا ما رأيت ، غير أني لا أجد في نفسي لأحد من المسلمين غشا ولا أحسد أحدا على خير أعطاه الله إياه . فقال عبد الله : هذه التي بلغت بك !![3] .

Sesudah hari ketiga, dan aku hampir saja meremehkan amalannya, ia berkata kepadaku : “ hai ‘Abdullah, antara aku dan bapakku tidak pernah marah dan tidak pernah berkata kasar/jelek.” Abdullah berkata :” tetapi  aku mendengar Nabi saw berkata tentang kamu hingga 3 kali: akan muncul pada kalian laki-laki ahli surga, maka kamu yang datang tiga kali, maka saya ingin tinggal ditempatmu, agar aku dapat melihat amalmu, supaya kamu bisa saya contoh, tetapi aku tidak melihat amalmu yang istimewa, maka apa amalmu yang menghantarkan pada apa yang dikatakan Rasulullah saw?” ia menjawab: “ yaitu apa yang telah kau lihat!”  sesudah saya akan meninggalkannya, ia memanggilku dan berkata: “ amalku itu ya apa yang telah kau lihat, dan saya tidak pernah menipu sesama muslim seorangpun, saya tidak pernah iri/dengki pada seorangpun atas kebaikan yang diberikan Allah SWT kepadanya.” Berkatalah ‘Abdullah: “kalau begitu inilah amal yang menyampaikanmu (ke tingkat ahli surga).”

Orang mukmin/beriman itu tidak syirik/menyekutukan Allah dan tidak mengabaikan ibadahnya. Dan iman yang paling lemah itu masih mempunyai rasa benci dalam hatinya pada kemungkaran dan kemaksiyatan, bila rasa ini sudah hilang dari dalam hati, berarti hilanglah imannya. Bila hilang imannya, maka hilanglah hak Allah atas seorang hamba, hingga ia akan disiksa saat ajal datang, saat di alam qubur hingga alam akhirat yang kekal abadi.

Rasulullah saw menjadi contoh orang yang benar/shidiq bagi manusia yang beramal, dan menyuruh sahabat-sahabatnya agar benar dalam ucapan dan perbuatan, hingga beliau bersabda :

“ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته، ويقتدون بأمره، ثم إنها يخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون، ويفعلون ما لا يؤمرون، فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن، ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن، ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن، ليس وراء ذلك من الإيمان جبة خردل”[12] ،

Tak seorang nabi-pun yang diutus Allah kepada umat sebelumku kecuali ada dari umatnya itu kaum yang menjadi penolongnya dan mengamalkan sunnahnya, mentaati perintahnya. Kemudian sesudahnya sungguh akan ada perselisihan dan mereka berkata yang tidak mereka perbuat, dan melakukan apa yang tidak diperintahkan, maka barang siapa berjihad dengan tangannya, maka dia itu orang beriman, dan barang siapa berjihad dengan lidahnya, maka ia itu beriman, dan barang siapa berjihad dengan hatinya, maka dia itu beriman, dan selain itu tidaklah beriman sekalipun sebesar biji sawi.

قول لا إله إلا الله

(ucapan laa ilaaha illallaah)

المراد بقول لا إله إلا الله

Akar dari ucapan laa ilaaha illallaah

اعلم رحمك الله أنّ هذه الكلمة هي الفارقة بين الكفر والإسلام، وهي كلمة التقوى، وهي العروة الوثقى، وهي التي جعلها إبراهيم عليه السلام كلمة باقية في عقبه لعلهم يرجعون.

Ketahuilah saudara yang disayang Allah bahwa kalimat ini adalah kalimat yang membedakan antara kufur dan Islam, dan merupakan kalimat pengikat taqwa, dan Ibrahim as menjadikan kalimat ini kalimat kekal sesudahnya. Mudah mudahan mereka kembali.

وليس المراد قولها باللسان مع الجهل بمعناها، فإنّ المنافقين يقولو وهم تحت الكفار في الدرك الأسفل من النار، مع كوم يصلون ويتصدقون، ولكن المراد قولها مع معرفتها

بالقلب ومحبتها ومحبة أهلها وبغض ما خالفها ومعاداته، كما قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم: } من قال لا إله إلاّ الله مخلصا{، وفي رواية} خالصا من قلبه { (1) ، وفي رواية} صادقا من قلبه} ( 2) { وفي حديث آخر}: {من قال لا إله إلاّ الله وكفر بما يعبد من دون الله{

Dan akar kalimat ini bukan sekedar ucapan lidah dengan ketidak tahuan maksudnya, karena orang munafiq itu mengucapkannya, namun ia akan masuk di dasar neraka di bawah orang kafir, walaupun mereka itu shalat bersama kaum dan bersedekah, akan tetapi akar ucapan  itu dalam hati dan kasih sayangnya dan sayang kepada keluarganya dan sebagian apa yang dibelakangnya dan tempat kembalinya. Sebagaimana nabi SAW bersabda: barang siapa mengucapkan laa ilaaha illallaah secara ihlas, dan dalam riwayat lain ihlas dari dalam hatinya, dan riwayat lainnya : benar-benar dari dalam hatinya, dan hadits lainnya : siapa mengucapkan laa ilaaha illaah dan mengingkari terhadap menyembah pada selain Allah

Posted by: hidayatilquran | March 12, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.